[TERUNGKAP]
Inilah Penyebab Terjadinya Fenomena Surplus Akhwat
Oleh: @bang_syaiha (Monggo difollow)
Boleh juga invite pin BB saya 7e9a822f
Inilah Penyebab Terjadinya Fenomena Surplus Akhwat
Oleh: @bang_syaiha (Monggo difollow)
Boleh juga invite pin BB saya 7e9a822f
Beberapa hari yang lalu, saya sempat melirik sebuah majalah Islami di masjid ketika sedang berisitrahat selepas shalat Dhuhur. Lirikan memang terjadi karena ada yang seksi, menggoda hati, dan sepertinya menarik sekali. Ya, apalagi kalau bukan tulisan besar-besar di halaman sampulnya, judul artikel utama mereka, tentang “Fenomena Surplus Akhwat.”
Membaca judul besar itu, otak saya lalu bekerja seperti komputer super canggih, mendesing. Lalu sejurus kemudian, percakapan dengan seorang kawan beberapa tahun silam muncul ke permukaan. Ia seperti sebatang kayu yang sebelumnya tersangkut di dasar danau, lalu lepas dan mengapung. Terlihat jelas, gamblang sekali.
“Kakak ane kan Murobiah, Syaiha.” Ia dulu bilang. “Dan Lu tau nggak,” katanya lagi mendekatkan wajahnya ke telinga saya, “Banyak loh biodata binaannya yang minta dicarikan jodoh. Lu mau nggak?”
“Kata kakak gue nih ya,” teman saya berujar lagi, “mencarikan jodoh untuk adik-adik binaannya ternyata tidak segampang membalikkan telapak tangan. Bahkan belum ada yang berhasil satupun.” –Ya iyalah, mencari jodoh itu tidak gampang. Itu sama saja mencari orang yang mau menemani kita hingga akhir hayat, membersamai dalam suka dan duka. Tentu saja sukar mencarinya.
Dulu, saya hanya menganggap semua ucapan teman itu sebagai bualan pelepas penat, sebagai gurauan penghangat malam yang terkadang dingin mencengkeram. Tapi sejak beberapa hari lalu, sejak membaca judul besar di majalah lama yang teronggok di masjid itu, boleh jadi ucapan teman saya beberapa tahun yang lewat ada benarnya.
Saya membuka lembar demi lembar majalah lawas di masjid, membaca laporan utama mereka, “Fenomena Surplus Akhwat: Penyebab dan Cara Mengatasinya!”
Dan sampai pada kalimat ini, “Majelis sehati Daarut Tauhid, sebuah lembaga semacam biro jodoh di bawah naungan Daarut Tauhid, Jakarta, mengaku telah menerima pendaftaran 400 perempuan dan hanya 50 laki-laki siap menikah –sebuah perbandingan yang timpang, satu berbanding delapan. Sedangkan di lembaga Biro Jodoh lain, mereka mengaku sudah ribuan perempuan mendaftar untuk dicarikan jodohnya.”
Lebih jauh, ulasan utama itu membahas penyebab mengapa surplus akhwat ini bisa terjadi, yaitu:
Pertama, memang diakui, bahwa kesadaran menuntut ilmu agama –terutama dalam mengikuti pengajian-pengajian, lebih banyak perempuannya dibandingkan laki-laki. Silakan saja buktikan kebenarannya, amati di setiap kelompok-kelompok pengajian, lihat di setiap tabligh akbar yang digelar, atau pada majelis-majelis ilmu lainnya, perempuan biasanya lebih banyak.
Mudahnya, perhatikan saja masjid di sekitar rumah kau, saya yakin sekali yang ada dan rutin setiap pekan diadakan adalah pengajian ibu-ibu, nggak ada pengajian bapak-bapak!
Akibatnya, mereka –perempuan, sadar sesadar-sadarnya bahwa mendapatkan jodoh yang baik adalah keharusan. Suami adalah pemimpin dalam sebuah keluarga, imam baginya dan anak-anak, juga seorang yang bertanggung jawab pada keselamatan mereka, maka kudu mengusahakan yang terbaik. Tidak bisa ditawar-tawar.
Lalu timbul lagi kesadaran lain, bahwa suami yang baik –yang bisa dijadikan imam, tidak mungkin bisa mereka dapatkan di tempat-tempat hiburan malam, tidak pula di pasar-pasar yang melenakan. Lelaki yang baik seharusnya dicari di tempat-tempat ibadah, di majelis-majelis ilmu, dan tempat-tempat lain yang berkah. Karena hal inilah, maka kemudian berbondong-bondong perempuan mendaftarkan dirinya dalam antrian panjang meminta dicarikan jodohnya.
Malangnya, jumlah laki-laki yang seperti itu, jumlahnya sedikit sekali. Kalah jauh dibandingkan jumlah mereka.
Kedua, mengapa fenomena surplus akhwat ini bisa terjadi? Salah seorang Ustadz –saya lupa namanya, berkata, “Banyak orang yang salah mengartikan kata sekufu. Buktinya, ada beberapa kasus ta’aruf yang batal hanya karena ikhwan dan akhwatnya berbeda strata pendidikan –akhwat sudah S2 dan ikhwannya hanya lulusan SMA. Mereka beranggapan bahwa sekufu berarti harus sama pendidikannya, sama kekayaan keluarganya, dan sama-sama yang lainnya.”
“Padahal, sekufu yang dimaksud adalah sama dalam pemahaman Islamnya, bukan pada hal-hal yang lain.”
Nah, jika kasus seperti di atas terjadi, maka hampir pasti akan kesulitan sekali mencarikan jodoh untuk akhwat tersebut. Harus laki-laki yang sudah S2, mapan, dan memiliki kualitas agama yang baik agar syarat sekufu versi mereka terpenuhi. Ada sih ikhwan yang begitu, tapi pasti kebanyakan sudah menikah. Apakah mau dijadikan istri kedua? Atau apakah istri si lelaki mau dimadu dengan dirinya?
Saya tidak ingin menjawabnya. Silakan saja dipikirkan.
Ketiga, mengapa fenomena surplus akhwat ini bisa terjadi? Karena kebanyakan akhwat menetapkan kriteria yang tinggi sekali. Tentu saja akan susah sekali mencari kriteria demikian, “Yang penting kualitas agamanya baik. Berpenampilan menarik –ganteng, mapan atau sudah berpenghasilan, hapal 30 juz Al Quran, keturunan keluarga baik-baik, lulusan perguruan tinggi ternama dengan IPK di atas 3 (Kayak mau cari karyawan saja! Tapi ini beneran pernah ada), aktif di berbagai kegiatan dakwah ketika di kampus, dan sebagainya.”
Awalnya sih udah bagus –yang penting kualitas agamanya baik, tapi ekornya kepanjangan! Bener sih, bahwa mencari suami itu harus lelaki yang terbaik. Tapi ingat, bukan mencari lelaki yang sempurna. Karena jika itu yang kau lakukan, mencari kesempurnaan, maka sampai lebaran monyet sekalipun, kau tidak akan menemukan.
Ingat sebuah petuah bijak bilang, “Jika kau mencari kesempurnaan pada seseorang untuk dijadikan pasangan hidup, maka tak sekalipun bisa kau dapatkan. Setiap orang selalu punya kekurangan. Jauh lebih baik, carilah lelaki –atau perempuan, yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Karena semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu inilah yang akan setahap demi setahap mengantarkannya pada perbaikan diri menjadi lebih baik lagi.”
Jadi, kesimpulannya, mengapa surplus akhwat bisa terjadi? Paling tidak ada tiga kemungkinan sebabnya: (1) Jumlah perempuan yang sadar pentingnya mencari pasangan pada jalan yang baik lebih banyak dibandingkan jumlah laki-lakinya, (2) Salah mengaplikasikan arti kata sekufu, dan (3) Terlalu tinggi menetapkan kriteria pasangan.
Nah, untuk menutup catatan ringan ini, ada baiknya kita simak sebuah pesan yang pernah disampaikan oleh orang-orang bijak, “Benar, bahwa menikah adalah salah satu kebaikan –tapi bukan satu-satunya, masih banyak kebaikan yang lain. Jadi, ketika pernikahan yang ditunggu-tunggu itu belum juga datang, maka sibukkan saja hari-harimu pada hal-hal lain yang berdaya guna. Jangan buang waktu pada hal sia-sia apalagi gundah gulana.”
![[TERUNGKAP]
Inilah Penyebab Terjadinya Fenomena Surplus Akhwat
Oleh: @bang_syaiha (Monggo difollow)
Boleh juga invite pin BB saya 7e9a822f
Beberapa hari yang lalu, saya sempat melirik sebuah majalah Islami di masjid ketika sedang berisitrahat selepas shalat Dhuhur. Lirikan memang terjadi karena ada yang seksi, menggoda hati, dan sepertinya menarik sekali. Ya, apalagi kalau bukan tulisan besar-besar di halaman sampulnya, judul artikel utama mereka, tentang “Fenomena Surplus Akhwat.”
Membaca judul besar itu, otak saya lalu bekerja seperti komputer super canggih, mendesing. Lalu sejurus kemudian, percakapan dengan seorang kawan beberapa tahun silam muncul ke permukaan. Ia seperti sebatang kayu yang sebelumnya tersangkut di dasar danau, lalu lepas dan mengapung. Terlihat jelas, gamblang sekali.
“Kakak ane kan Murobiah, Syaiha.” Ia dulu bilang. “Dan Lu tau nggak,” katanya lagi mendekatkan wajahnya ke telinga saya, “Banyak loh biodata binaannya yang minta dicarikan jodoh. Lu mau nggak?”
“Kata kakak gue nih ya,” teman saya berujar lagi, “mencarikan jodoh untuk adik-adik binaannya ternyata tidak segampang membalikkan telapak tangan. Bahkan belum ada yang berhasil satupun.” –Ya iyalah, mencari jodoh itu tidak gampang. Itu sama saja mencari orang yang mau menemani kita hingga akhir hayat, membersamai dalam suka dan duka. Tentu saja sukar mencarinya.
Dulu, saya hanya menganggap semua ucapan teman itu sebagai bualan pelepas penat, sebagai gurauan penghangat malam yang terkadang dingin mencengkeram. Tapi sejak beberapa hari lalu, sejak membaca judul besar di majalah lama yang teronggok di masjid itu, boleh jadi ucapan teman saya beberapa tahun yang lewat ada benarnya.
Saya membuka lembar demi lembar majalah lawas di masjid, membaca laporan utama mereka, “Fenomena Surplus Akhwat: Penyebab dan Cara Mengatasinya!”
Dan sampai pada kalimat ini, “Majelis sehati Daarut Tauhid, sebuah lembaga semacam biro jodoh di bawah naungan Daarut Tauhid, Jakarta, mengaku telah menerima pendaftaran 400 perempuan dan hanya 50 laki-laki siap menikah –sebuah perbandingan yang timpang, satu berbanding delapan. Sedangkan di lembaga Biro Jodoh lain, mereka mengaku sudah ribuan perempuan mendaftar untuk dicarikan jodohnya.”
Lebih jauh, ulasan utama itu membahas penyebab mengapa surplus akhwat ini bisa terjadi, yaitu:
Pertama, memang diakui, bahwa kesadaran menuntut ilmu agama –terutama dalam mengikuti pengajian-pengajian, lebih banyak perempuannya dibandingkan laki-laki. Silakan saja buktikan kebenarannya, amati di setiap kelompok-kelompok pengajian, lihat di setiap tabligh akbar yang digelar, atau pada majelis-majelis ilmu lainnya, perempuan biasanya lebih banyak.
Mudahnya, perhatikan saja masjid di sekitar rumah kau, saya yakin sekali yang ada dan rutin setiap pekan diadakan adalah pengajian ibu-ibu, nggak ada pengajian bapak-bapak!
Akibatnya, mereka –perempuan, sadar sesadar-sadarnya bahwa mendapatkan jodoh yang baik adalah keharusan. Suami adalah pemimpin dalam sebuah keluarga, imam baginya dan anak-anak, juga seorang yang bertanggung jawab pada keselamatan mereka, maka kudu mengusahakan yang terbaik. Tidak bisa ditawar-tawar.
Lalu timbul lagi kesadaran lain, bahwa suami yang baik –yang bisa dijadikan imam, tidak mungkin bisa mereka dapatkan di tempat-tempat hiburan malam, tidak pula di pasar-pasar yang melenakan. Lelaki yang baik seharusnya dicari di tempat-tempat ibadah, di majelis-majelis ilmu, dan tempat-tempat lain yang berkah. Karena hal inilah, maka kemudian berbondong-bondong perempuan mendaftarkan dirinya dalam antrian panjang meminta dicarikan jodohnya.
Malangnya, jumlah laki-laki yang seperti itu, jumlahnya sedikit sekali. Kalah jauh dibandingkan jumlah mereka.
Kedua, mengapa fenomena surplus akhwat ini bisa terjadi? Salah seorang Ustadz –saya lupa namanya, berkata, “Banyak orang yang salah mengartikan kata sekufu. Buktinya, ada beberapa kasus ta’aruf yang batal hanya karena ikhwan dan akhwatnya berbeda strata pendidikan –akhwat sudah S2 dan ikhwannya hanya lulusan SMA. Mereka beranggapan bahwa sekufu berarti harus sama pendidikannya, sama kekayaan keluarganya, dan sama-sama yang lainnya.”
“Padahal, sekufu yang dimaksud adalah sama dalam pemahaman Islamnya, bukan pada hal-hal yang lain.”
Nah, jika kasus seperti di atas terjadi, maka hampir pasti akan kesulitan sekali mencarikan jodoh untuk akhwat tersebut. Harus laki-laki yang sudah S2, mapan, dan memiliki kualitas agama yang baik agar syarat sekufu versi mereka terpenuhi. Ada sih ikhwan yang begitu, tapi pasti kebanyakan sudah menikah. Apakah mau dijadikan istri kedua? Atau apakah istri si lelaki mau dimadu dengan dirinya?
Saya tidak ingin menjawabnya. Silakan saja dipikirkan.
Ketiga, mengapa fenomena surplus akhwat ini bisa terjadi? Karena kebanyakan akhwat menetapkan kriteria yang tinggi sekali. Tentu saja akan susah sekali mencari kriteria demikian, “Yang penting kualitas agamanya baik. Berpenampilan menarik –ganteng, mapan atau sudah berpenghasilan, hapal 30 juz Al Quran, keturunan keluarga baik-baik, lulusan perguruan tinggi ternama dengan IPK di atas 3 (Kayak mau cari karyawan saja! Tapi ini beneran pernah ada), aktif di berbagai kegiatan dakwah ketika di kampus, dan sebagainya.”
Awalnya sih udah bagus –yang penting kualitas agamanya baik, tapi ekornya kepanjangan! Bener sih, bahwa mencari suami itu harus lelaki yang terbaik. Tapi ingat, bukan mencari lelaki yang sempurna. Karena jika itu yang kau lakukan, mencari kesempurnaan, maka sampai lebaran monyet sekalipun, kau tidak akan menemukan.
Ingat sebuah petuah bijak bilang, “Jika kau mencari kesempurnaan pada seseorang untuk dijadikan pasangan hidup, maka tak sekalipun bisa kau dapatkan. Setiap orang selalu punya kekurangan. Jauh lebih baik, carilah lelaki –atau perempuan, yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Karena semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu inilah yang akan setahap demi setahap mengantarkannya pada perbaikan diri menjadi lebih baik lagi.”
Jadi, kesimpulannya, mengapa surplus akhwat bisa terjadi? Paling tidak ada tiga kemungkinan sebabnya: (1) Jumlah perempuan yang sadar pentingnya mencari pasangan pada jalan yang baik lebih banyak dibandingkan jumlah laki-lakinya, (2) Salah mengaplikasikan arti kata sekufu, dan (3) Terlalu tinggi menetapkan kriteria pasangan.
Nah, untuk menutup catatan ringan ini, ada baiknya kita simak sebuah pesan yang pernah disampaikan oleh orang-orang bijak, “Benar, bahwa menikah adalah salah satu kebaikan –tapi bukan satu-satunya, masih banyak kebaikan yang lain. Jadi, ketika pernikahan yang ditunggu-tunggu itu belum juga datang, maka sibukkan saja hari-harimu pada hal-hal lain yang berdaya guna. Jangan buang waktu pada hal sia-sia apalagi gundah gulana.”
Demikian.
_________________________
Boleh disebar](https://scontent-b.xx.fbcdn.net/hphotos-xap1/v/t1.0-9/p280x280/10933901_1570022226543057_450556208037493478_n.jpg?oh=eae2aa12a0731b198d6d4642b215ed05&oe=5520D6B8)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar